Press "Enter" to skip to content

EKSISTENSI ALLAH DAN FIRMANNYA

(Pengantar Pengajian Tafsir bersama Prof. Dr. Yunan Yusuf)
Kampus UHAMKA, Limau, Ruang Sidang – B
Jumat, 21 Maret 2014

Wujud Tuhan dan Komunikasi dengan-Nya

Sebelum membahas al-Quran, firman Allah yang sangat luar biasa ini, ada baiknya sedikit disinggung tentang Allah, sang pemilik firman itu. Keimanan kepada Allah adal asas utama keimanan  yang harus dijiwai oleh setiap orang muslim. Pertanyaan utamanya adalah: apakah Allah ada atau tidak? Orang-orang materialis-atheis menyatakan bahwa Tuhan tidak ada. Mengapa? Karena memang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah dalam standar mereka. Allah/Tuhan tidak konkrit, tidak empiris, tidak ilmiah.
Alasan semacam ini tentu sangat dangkal, apalagi untuk mengukur Allah. Allah adalah dzat yang tak terbatas (unlimited), sedangkan manusia adalah eksistensi yang terbatas ((limited). Bagaimana mungkin yang terbatas akan mengukur yang tak terbatas? Bagaiamana mungkin yang terbatas mewadahi dan menampung yang tak terbatas?Selanjutnya adalah tentang konsep “ada”. Betapa dangkalnya jika yang dinyatakan “ada” hanya diukur dengan yang terlihat, yang teraba, yang tertangkap pancaindera? Begitu banyak realitas di muka bumi ini yang ada, tapi tak tertangkap pancaindera. Utara, selatan, timur, bukankah semua itu ada? Tapi apa wujudnya? Kenapa kita percaya? Bukankah kawan kita yang sebagian tak hadir dalam pengajian ini juga kita katakan ada? Mereka ada. Hanya saja tidak di sini, kan? Tapi bukan berarti mereka tidak ada. Mereka ada di tempat lain.Jadi banyak pengertian tentang “ada” ini. Ada “ada” konkrit, ada “ada” abstrak. Untuk menangkap “ada” yang konkrit saja pancaindera terbatas, bagaimana mau menangkap “ada” yang abastrak, bagaimana mungkin juga menangkap Tuhan/Allah? Untuk mengungkap misteri yang ada di bumi saja tidak semuanya bisa, bagaimana mau mengungkap Allah?Karena itulah manusia harus menyadari indera lain yang ada dalam dirinya. Manusia tidak hanya terdiri dari indera fisik, tapi di sana ada psikis, ada jiwa, ada yang namanya hati. Sekarang sederhananya begini, kita pasti tahu apa itu rasa gula, ya? Manis. Betul, ya? Tapi kalau saya tanya, apakah definisi manis? Pasti tak ada yang bisa jawab keculai dengan menyebutkan seluruh negasinya yang sangat banyak dan ini tentu bukanlah suatu definisi yang benar. Lantas bagiamana jika ada yang ingin tahu rasa manis? Masukkan saja satu sendok madu ke dalam mulutnya. Suruh dia merasakan. Maka dia akan mengerti betul apa yang disebut manis.

Nah, mengenal Allah juga bisa dipahami seperti itu. Kita harus tercebur dalam keimanan, dalam ibadah, dan merasakan kehadiran Allah di sana. Bukan hanya itu. Kita dapat berkomunikasi dengan Allah. Hebatnya, Allah sendiri sudah memberitahu bagaimana kita berkomunikasi dengannya. Melalui shalat kita dapat berkomunikasi dengan-Nya. Shalat adalah cara khusus untuk berkomunikasi dengan-Nya. Dengan cara inilah, tidak dengan yang lain, manusia dapat berkomunikasi dengan Allah.

Mari kita perhatikan. Bukankah manusia ini mampu berkomunikasi dengan hewan? Bisa Anda berkomunikasi dengan kucing? Dengan memanggilnya “mpus” misalnya. Ada juga bisa memberikan isyarat atau bunyian tertentu untuk berkomunikasi dengannya. Dengan ayam, dengan anjing, dan seterusnya. Yah, manusia bisa berkomunikasi dengan hewan. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan cara tersendiri, dengan cara yang khas yang bisa diterima oleh hewan-hewan itu. Tidak dengan cara sebagaimana manusia berkomunikasi dengan manusia lain. Jika berkomunikasi dengan hewan saja bisa, masa iya tidak bisa berkomunikasi dengan Allah? Apalagi jika caranya telah diberitahu Allah.

Sejarah Turunnya al-Qur’an
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami turunkan al-Quran dan sesunggunya kami senantiasa menjaganya”. Dalam firman ini Allah menggunakan kata “inna (kami)” bukan “ana (saya)”. Dalam redaksi yang semacam ini, dengan menggunakan “inna” biasanya dimaksudkan bahwa pekerjaan yang ada dilakukan oleh Allah dengan melibatkan pihak lain. Dalam konteks ini, pada saat menurunkan al-Quran Allah melibatkan Jibril. Kemudian dalam hal “menjaga al-Quran” tentu saja melibatkan kita semua, kaum muslimin.

Ada yang bertanya, bagaimana mungkin al-Quran itu adalah benar-benar firman Allah, bahkan teks-nya benar-benar berasal dari Allah? Bukankah Allah tidak sama dengan makhluk? Bukankah berarti firman yang asli tak ada suara, tak ada huruf? Bagaimana Jibril menangkap semuanya? Apakah Jibril yang membahasakan al-Quran?

Pertanyaan ini sekali lagi juga terasa dangkal. Betapa sekarang kecanggihan teknologi seharusnya memudahkan kita untuk mempercayai hal-hal yang ghaib, bukannya malah menyangsikannya. Ambil contoh mesin fax. Kalau kita mengirim fax, apakah kertas dan tulisan yang kita masukkan ke mesin fax yang kita punya kemudian melayang ke sana? Tidak kan? Lantas apa yang menuju ke sana sehingga di mesin fax yang berada di tempat yang jauh itu  tiba-tiba keluar tulisan yang sama, persis dengan tulisan yang kita kirim?

Di sini ada teori energi dan materi. Energi adalah materi yang mengembang, materi adalah energy yang memadat. Tulisan yang kita kirim berubah menjadi energi, entah macam apa wujudnya ini, kan? Sangat abstrak dan hanya bisa dijelaskan dengan teori, bahkan tentu saja tidak semua orang paham. Kemudian ia memadat dan diterima kembali sebagai tulisan sebagaimana aslinya. Nah, al-Quran kurang lebih demikian. Semua itu asli dari Allah. Dalam bentuk energi, abstrak, tidak berhuruf, tidak bersuara, bahkan tidak semua orang juga mengerti, kecuali mereka yang memahami teori kemahakuasaan Allah. Kemudian ditransfer kepada Jibril, dan selanjutkan diteruskan kepada Nabi Muhammad SAW.

Al-Quran, Bebas dari Kritik Filologi
Untuk menguji kevalidan sebuah kitab suci, ada tiga pertanyaan kunci yang dilontarkan oleh para ahli filologi: (1) Siapa penerima pertama kitab suci itu? (2) Kapan kitab suci itu diturunkan? (3) Kapan kitab itu dituliskan? Ketiga pertanyaan ini adalah parameter ilmiah yang menjadi ukuran apakah sebuah kitab suci dapat dibenarkan atau tidak. Mari kita uji satu persatu kitab suci yang ada dengan ketiga pertanyaan ini.

Pertama, Veda, kitab suci umat Hindu. Para tokoh Budha tidak bisa menjelaskan siapa penerima pertama kitab suci ini. Dalam konsep Hindu, wahyu Tuhan turun pada alam. Jadi semesta ala mini penerima wahyu. Selanjutnya Veda ditemukan pertama kali 5000 SM. Jadi ketiga pertanyaan ini tidak mempu terjawab untuk kitab Veda. Jarak antara Veda dengan masa ditemukannya juga sangat jauh yang tentu saja akan semakin sulit, kalau malah tidak tak mungkin, untuk mengungkap data-data yang berkaitan dengan Veda.

Kedua, Tripitaka, kitab suci umat Budha. Penerima pertama kitab Tripitaka ini konon adalah Sidharta Gautama. Disebutkan bahwa dia adalah putra seorang raja yang kemudian menjauhkan diri dari kemewahan dunia dan hidup dalam naungan spiritual. Namun demikian, jejak Sidharta hari ini sudah tak ada lagi. Kuburannya tak ditemukan secara pasti. Sidharta menjadi semacam dongen legenda. Kemudian Tripitaka pertama kali ditemukan 400 SM.

Ketiga, Bible, kitab suci umat Kristen. Berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya. Dalam konsep Kristen, wahyu Tuhan bukan kitab suci, tapi justru Yesus itu sendiri. Dengan demikian, penerima wahyunya berarti ibunda Yesus, Maria. Karena itulah Maria menjadi unsur penting dalam doktrin trinitas Kristen. Namun sekali lagi hari ini jejak Yesus juga tak jelas rimbanya. Kuburan Yesus tak pernah ditemukan. Lantas kapan Bible pertama kali ditulis? Bible ditulis pertama kalinya 300 tahun setelah penyaliban Yesus. Betapa jauhnya jarak ini. Apakah jarak yang sangat jauh ini masih bisa menjamin keorisinalan Bible? Tentu sangat mustahil! Bible ini adalah reportase tentang sejarah Yesus. Jadi kalau dalam Islam ini seperti “Sunah/Hadits”. Itupun sunah yang dha’if (disangsikan).

Keempat, al-Quran, kitab suci umat Islam. Penerima pertama al-Quran sangat jelas, yaitu Nabi Muhammad SAW. Semua hal yang berkenaan dengan Muhammad sangat jelas. Sejarahnya begitu berlimpah. Orangtuanya, saudara-saudaranya, dan semua jejak yang berkenaan dengan Muhammad sangat jelas dan dapat dibuktikan hingga hari ini. Bahkan tempat menerima wahyu pertama juga masih utuh sampai sekarang. Makam Muhammad dan berbagai jejak sejarahnya masih ada hingga sekarang.

Kapan al-Quran mulai ditulis? Al-Quran ditulis sejak diturunkan. Seketika setelah Muhammad menerima wahyu langsung memanggil para skretaris beliau, salah satunya adalah Zaid bin Tsabit. Al-Quran masih terpelihara hingga sekarang dengan bahasa asli pada saat diturunkan, dan bahasa itu masih hidup digunakan masyarakat hingga hari ini. Bukan hanya ditulis, al-Quran juga dihafal oleh ratusan, bahkan ribuan orang sejak diturunkan hingga hari ini. Sekali lagi  hingga hari ini. Jadi hanya al-Quran-lah satu-satunya kitab suci yang dapat dibuktikan secara ilmiah yang berarti juga paling otoritatif untuk dipercaya oleh umat manusia.

Please follow and like us:
error0

Comments are closed.