Rangkaian Pelatihan Baitul Arqam Purna Studi mengusung Tema “Spirit Prophetic Teaching University untuk Lulusan yang Unggul dan Berdaya Saing” dimulai sejak awal bulan November 2023 dan berlangsung hingga akhir Juli 2024. Setiap gelombang pelatihan dilaksanakan dengan penuh antusiasme. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pembekalan yang mendalam mengenai pemahaman Islam yang komprehensif serta keterampilan profesional yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Dalam pelatihan ini, peserta diberikan materi yang meliputi penguatan akhlak, peningkatan kemampuan komunikasi, serta strategi dalam mengelola dan memimpin organisasi. Materi pelatihan disampaikan oleh Dosen dan Maha Guru di Uhamka.
Pelatihan Baitul Arqam Purna Studi ini adalah wujud komitmen Uhamka untuk mencetak pemimpin-pemimpin masa depan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki integritas dan kualitas moral yang tinggi. LPP AIK Uhamka berharap, para peserta dapat mengaplikasikan ilmu dan keterampilan yang didapatkan dalam Baitul Arqam Purna Studi pada kehidupan sehari-hari serta dalam setiap peran yang Lulusan Uhamka jalani.”
Selama pelatihan, peserta tidak hanya mengikuti sesi pembelajaran formal, tetapi juga terlibat dalam berbagai kegiatan interaktif, termasuk diskusi kelompok, studi kasus, dan simulasi kepemimpinan. Hal ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman serta kemampuan praktik yang akan sangat berguna dalam menghadapi tantangan di dunia nyata.
Sebagai penutup dari rangkaian pelatihan, diadakan acara penutupan yang dihadiri oleh seluruh peserta dan penyelenggara. Dalam kesempatan ini, diberikan penghargaan kepada peserta dengan prestasi terbaik.
Dengan berakhirnya rangkaian pelatihan Baitul Arqam Purna Studi gelombang ke-11, LPP AIK Uhamka berharap para lulusan dapat menerapkan nilai-nilai yang telah dipelajari dan menjadi agen perubahan yang positif di masyarakat. Pelatihan ini diharapkan dapat memperkuat fondasi gerakan LPP AIK Uhamka dalam menciptakan masyarakat yang unggul dan berdaya saing tinggi.
]]>
Ramadan Fest UHAMKA hadir untuk memeriahkan bulan Ramadhan 1445 Hijriah dengan berbagai lomba menarik bagi pelajar, mahasiswa, tendik, dan dosen. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan syiar Islam, mengasah kreativitas, dan mempererat tali persaudaraan di lingkungan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka.
Kategori Peserta:
Pelajar
Mahasiswa
Tendik dan Dosen
Lomba untuk Pelajar:
Lomba untuk Mahasiswa:
Lomba untuk Tendik dan Dosen:
Informasi Pendaftaran:
Pendaftaran dibuka pada tanggal 1 – 5 Ramadhan 1445 H
Pendaftaran online melalui
https://bit.ly/ramadanfestuhamka1445H
Biaya pendaftaran:
Gratis!!
Hadiah yang Diperebutkan:
Juara 1: Rp. 1.500.000,- + Sertifikat
Juara 2: Rp. 1.000.000,- + Sertifikat
Juara 3: Rp. 750.000,- + Sertifikat
Acara Ramadan Fest UHAMKA:
Grand Final: Kampus FKIP UHAMKA
Tempat: Kampus FKIP dan FEB UHAMKA
Ramadan Fest UHAMKA: Mari Semarakkan Bulan Suci dengan Syiar dan Kreativitas!
Informasi dan Kontak:
Website: https://www.aik.uhamka.ac.id/
Email: aik@uhamka.ac.id
Instagram: @lpp.aik_uhamka
Ayo, ikuti Ramadan Fest UHAMKA dan raih kesempatanmu untuk menjadi juara!
]]>
]]>
Diberitahukan kepada seluruh mahasiswa UHAMKA bahwa:
Jakarta – Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPP AIK) Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (Uhamka) menyelenggarakan kegiatan Baitul Arqam Dosen Uhamka dengan tema Mengenal dan Mengabdi untuk Uhamka Berkemajuan yang berlokasi di Aula Rusunawa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Uhamka pada tanggal 23-25 Mei 2022.
Kegiatan ini dihadiri oleh Prof Gunawan Suryoputro selaku Rektor Uhamka, Abd. Rahman A. Ghani selaku Wakil Rektor I, Bunyamin selaku Wakil Rektor IV, Muhib Rosyidi selaku Ketua LPP AIK, Irwan Baadila selaku Master of Training, Totong Heri selaku Divisi Pengembangan Kampus Islami serta peserta Baitul Arqam Uhamka.
Totong Heri mengungkapkan bahwa Baitul Arqam merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mempersiapkan dan meningkatkan persentasi dosen menjadi seratus persen sebagai dosen di salah satu Amalan Usaha Muhammadiyah bidang pendidikan, yaitu Uhamka.
“Alhamdulillah, peserta yang hadir dalam kegiatan ini berjumlah kurang lebih 20 peserta. Bapak dan Ibu, Baitul Arqam ini diadakan sebagai syarat agar Bapak/Ibu dapat menjadi dosen 100 persen di Uhamka,” ujar Totong.
Muhib Rosyidi berharap Baitul Arqam ini dapat memberikan manfaat kepada seluruh peserta. Bukan hanya ilmu dan pengalaman, tapi juga relasi yang luas karena dapat bertemu dengan dosen-dosen lainnya.
“Jika kita ingat kisah Rasulullah yang menginap di Gua Hira, dari situ ia mendapatkan nilai orientasi. Rasulullah tidak lagi memikirkan kepentingan yang lama tapi berorientasi kedepan. Pada orientasi ini, kemampuan Bapak/Ibu bukan diragukan tapi diarahkan. Semoga orientasi ini dapat memberikan manfaat kepada para peserta. Bukan hanya ilmu dan pengalaman, tapi juga relasi yang luas,” tuturnya.
Prof Gunawan menyampaikan bahwa Baitul Arqam menjadi basis pengembangan karakter dosen Uhamka khususnya Persyarikatan Muhammadiyah. ini merupakan hal penting agar dosen Uhamka lebih mendalami dan menegenal Muhammadiyah dan tidak lagi salah pemahaman tentang Muhammadiyah. Selain itu, melalui kegiatan ini diharapkan para dosen bisa mengintegrasikan ilmu yang dimiliki dengan nilai Islam.
]]>
Jakarta – Sekalipun bagian dari yang terkena dampak karena pandemic covid 19, Tiga orang mahasiswa Prodi Matematika FKIP UHAMKA mengadakan sebuah kegiatan pemberdayaan Keluarga Kaum Dhuafa. Mereka adalah Anggis Nuraeni, Anisa Dita Rahmawati, dan Tasya Amelia.
Bantuan pemberdayaan keluarga dhuafa tersebut dilaksanakan di daerah Leuwiliang- Bogor. Tepatnya di kediaman Bapak Hasan daerah Kp. Batu Nunggul Barengkok, Leuwiliang- Bogor.
Menurut Tasya Amelia, Bapak Hasan merupakan kepala keluarga yang memiliki tanggungan 1 istri, 3 orang anak dan ibu dari Bapak Hasan itu sendiri. Untuk kebutuhan sehari-hari bapak hasan bekerja secara serabutan, terkadang pula beliau bekerja jika ada panggilan pekerjaan dan jika ada modal lebih beliau berjualan bakso keliling.
“Dengan adanya kegiatan ini, kami merasa bersyukur bisa dapat terlibat dalam pemberdayaan keluarga dhuafa.” Ujar Tasya dalam keterangannya, Selasa (26/01/2021)
Begitu juga yang dituturkan oleh Anisa dita, ia menjelaskan bahwa dengan kegiatan tersebut ia merasa harus banyak-banyak bersyukur atas rezeki yang ia nikmati.
“Begitu pula saya dapat membantu sesama umat Islam walau bantuan yang saya dan teman-teman lakukan tergolong sederhana”. Tuturnya
“Alhamdulillah bisa sedikit membantu Bapak Hasan dalam menghadapi kesulitan dalam hal perekonomian. Hal ini karena situasi Pandemic COVID-19, yang semakin mempengaruhi perekonomian Bapak Hasan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk keluarganya.” Tutur Anggis.
Dalam hal membantu Bapak Hasan dan keluarga, Anggis dan dua rekannya melakukan penggalangan dana. Seperti membuat proposal dan phamflet yang disebar dimedia sosial milik kami.
“Alhamdulillah galang dana yang kami lakukan kurang lebih 1 bulan, dana yang terkumpul sebesar Rp 1.164.000. Dana yang terkumpul ini kami buatkan warung makanan khas anak-anak, kebutuhan pangan, alat tulis dan kebutuhan sandang. Penyaluran yang diberikan kepada keluarga Bapak Hasan dilakukan pada hari Sabtu, 26 Desember 2020.” Ungkap Anggis.
]]>
Jakarta – Program pemberdayaan keluarga dhuafa kolaborasi dengan dosen di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA) adalah sebuah program untuk pengabdian kepada masyarakat dengan membantu keluarga kaum duafa yang membutuhkan.
Adanya pandemi Covid-19 menyebabkan program pemberdayaan keluarga dhuafa kali ini berbeda dari tahun sebelumnya. Di tengah wabah Covid-19 yang sedang melanda Indonesia. Program pemberdayaan keluarga dhuafa dilaksanakan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.
“Meskipun seperti itu tidak mengurangi semangat dari mahasiswa dan juga dosen UHAMKA dalam melaksanakan program ini. Karena pada masa pandemi seperti ini semua elemen masyarakat terkena imbasnya mulai dari golongan atas hingga golongan bawah. Dan program ini tersebar ke hampir seluruh jabodetabek.” Ungkap Rifki, Mahasiswa FKIP Uhamka dalam keterangannya, Senen, (25/01/2021)
Rifqi dan dua rekannya, yaitu Rohim Andriono dan Mutiara Dwi Melinda membantu keluarga Ibu Rostini Mahmud yang beralamat di Kelurahan Cibarusa, Cikarang, Kab. Bekasi, Jawa Barat.

Menurut Mutiara anggota timnya mengatakan bahwa, “di dekat rumah saya terdapat seorang kealurga dhuafa bernama ibu rostini yang mana beliau sangat sulit keadaannya dan juga untuk bantuan pun susah dikarenakan lokasi lingkungan saya yang merupakan perumahan bukan pemukiman masyarakat biasa”. Tutur Mutiara.
Mutiara menceritakan bahwa Rostini Mahmud adalah seorang janda yang memiliki 2 anak dan masih memiliki satu orang tua yang sudah renta. Sebelum pandemi ibu Rostini berjualan di SD setempat namun setelah adanya covid 19 melanda ibu Rostini tidak berjualan lagi dikarenakan sekolah itu tutup dan alhasil modal Ibu Rostinipun habis untuk memenuhi kebutuhan sehari hari.
“yah palingan hanya nunggu sumbangan anak yatim dari masjid aja sih, karena ya memang sudah tidak bisa berbuat apa-apa” ungkap bu rostini, seperti diceritakan Mutiara.
Sementara itu Rohim dalam keterangannya mengatakan bahwa Pengabdian Kepada Masyarakat yang berkolaborasi dengan dosen sangat memperhatikan protokol kesehatan dengan menggunakan masker, membawa hand sanitizer dan tetap menjaga jarak pada saat melakukan survey dan penyaluran bantuan.
“Dari hasil fundraising yang kami lakukan, terkumpul sebesar 1.085.000. semua kami sumbangkan. Penyaluran bantuan dilaksanakan pada sabtu, 9 Januari 2021 dan Bantuan yang diberikan berupa modal usaha membuka warung kecil yang menjual aneka sosis goreng dan aneka snack dan minuman, agar ibu rostini bisa berjualan kembali untuk menghidupi keluarganya serta sembako untuk kehidupan sehari-hari. Mengingat keluarga Ibu Rostini yang menjadi keluarga terdampak Covid-19 dan membutuhkan bantuan karena perekonomian mereka sedang terguncang dengan tidak bisa berjualan lagi karena kehabisan modal untuk kebutuhan hidup.” Ungkap Rohim, mahasiswa matematika Uhamka ini.
“Kami berterima kasih kepada bapak Amirullah M.A yang sudah ikut membimbing dan mendampingi kami. Tak lupa juga kami khaturkan terima kasih kepada seluruh donatur yang sudah bersedia menyumbangkan sedikit rezekinya dan juga pihak-pihak yang sudah mendukung untuk membantu Ibu Rostini berjualan kembali. Semoga amal yang diberikan dapat membawa keberkahan kepada kita semua dan semoga dapat menjadi pahala dari Allah SWT.” Tambah Rohim.
*amr
]]>
Jakarta – Bu Rutia merupakan seorang pemulung yang berasal dari Indramayu bertujuan merantau ke jakarta untuk usaha. Beliau membuka usaha lauk matang di rumahnya setiap hari. Dengan kondisi rumah yang kurang baik, dan barang hasil mulung berserakan dimana-mana. Beliau tinggal di tanah milik pemerintah bukan milik sendiri yang membuat beliau mengalami 3 kali gusuran.
“Ibu kan tadinya di laskar trus digusur, pindah lagi ke damkar digusur lagi, nah sekarang di gerbang ini, udah tiga kali ini dek digusur” ungkap Bu Rutia, seperti yang diceritakan Ratna dalam keteranganya, Senen, (25/01/2021)
Mahasiswa pendidikan matematika FKIP Uhamka ini melaksanakan program pemberdayaan keluarga dhuafa. Program ini merupakan salah satu tugas dari mata kuliah kemuhammadiyahan.
“Dalam mata kuliah kemuhammadiyahan kita diajarkan untuk saling berbagi kepada sesama manusia. Seperti dalam empat pokok tafsir Al-ma’un, yaitu perintah berbuat baik kepada anak yatim dan fakir miskin, jangan lalai mendirikan shalat, jangan riya dalam beribadah, dan jangan kikir (pelit) untuk beramal dan berbagi dengan sesama.” Ujar Ratna.
Program pemberdayaan keluarga dhuafa ini menurut Ratna, tidak hanya dilakukan di satu daerah tetapi terbagi di beberapa daerah.
“Tim kami yang beranggotakan Ratna, Alya dan Sesi merasa sangat bersyukur dengan adanya program ini kami bisa membantu sesama manusia. Tim kami memilih untuk melakukan pemberdayaan keluarga dhuafa di daerah Utan Kayu, Rawamangun. Keluarga dhuafa yang membuat kami merasa sangat ingin membantunya adalah keluarganya Bu Rutia.” Ungkapnya.
Ratna, Alya dan Sesi merasa disambut dengan hangat oleh keluarga Bu Rutia dan anak-anaknya.
“Mereka sangat senang dengan kedatangan kami di tengah-tengah mereka. Saya merasa program ini sangat baik, dan merasa berterimakasih karena sangat membantu kami untuk makan sehari-hari” ujar Bu rutia, menceritakan.
Ratna menyampaikan bahwa dirinya dan dua rekannya merasa sangat bahagia bisa membantu keperluan Bu Rutia. Beliau juga sempat mengatakan kepada timnya kalau sebelumnya sudah pernah kena PHP oleh beberapa orang yang mengiming-imingkan bantuan sembako kepada mereka.
“Ibu mah seneng banget kalo ditanya seneng apa tidaknya, karena sebelum eneng kesini itu udah pernah ada yang kesini juga neng tapi dimintain fotokopian KTP perorang tapi belum ada kabar sampe sekarang. Bukannya emang pengen dikasianin tapi kan ibu yang koordinasiin itu semua” ungkap Bu Rutia, seperti diceritakan Ratna dalam keterangannya.
Ratna menceritakan tentang kondisi Bu Rutia perubahan sebelum dan sesudah adanya covid-19, beliau mengungkapan tentang banyaknya bantuan yang datang dan mendapatkan penghasilan yang lumayan sebelum adanya covid-19 ini, tetapi setelah adanya covid-19 ini sangat berdampak pada penghasilan mereka.
“Biasanya mah anak-anak bisa masuk ke gang-gang, kalau sekarang kan sudah gk bisa masuk ke gang-gang. Dan alhamdulillah nya banyak orang yang membantu kami disini dek” ungkap Bu rutia lagi.
Ratna menjelaskan bahwa ia dan dua rekannya menggali dana melalui proposal kegiatan, pamplet, dan melalui kitabisa.com dengan menyebar luaskan proposal dan pamplet tersebut ke masyarakat luas dan dana terkumpul sebesar Rp. 1.050.000
“Dengan adanya program ini membuktikan bahwa kita sebagai manusia itu harus peduli dan membantu sesama manusia agar kita selalu rendah hati dan bersyukur atas nikmat yang Allah SWT berikan serta dapat mengamalkan apa yang diajarkan oleh K.H. Ahmad Dahlan yaitu empat pokok tafsir al-ma’un.” Tutur Ratna.
*amr
]]>
Jakarta – Ketimpangan sosial, keterbelakangan, kemiskinan dan kebodohan. Itulah situasi yang dialami oleh mayoritas penduduk Indonesia yang secara mayoritas beragama Islam. Situasi ini sangat mudah dijumpai oleh siapa pun di mana pun di seluruh penjuru negeri, apalagi di masa pandemi yang masih belum berakhir. Tapi tidak banyak yang hatinya resah dan tergerak untuk sedikit membantu.
Kondisi ini membuat mahasiswa FKIP UHAMKA yang terdiri dari, Amanda Purwitasari, Farha Lailiah dan Lutfia Fitriyani, dalam bimbingan dosen Kemuhammadiyahanya, yaitu Bapak Amirullah, M.A terlibat dalam membantu keluarga dhuafa yang ada di Jabodetabek.
Keluarga dhuafa yang dibantu itu adalah Kakek Patoi dan Nenek Sini, penduduk asli Kp. Baru, Kelapa Dua Wetan – Jakarta Timur merupakan salah satu yang kami pilih sebagai obyek dalam gerakan pemberdayaan keluarga Dhuafa yang kami lakukan.
“Berangkat dari kesadaran dan spirit Qur’an surat Al – Maun ayat 104, kami (Amanda Purwitasari, Farha Lailiah, dan Lutfia Fitriyani Mahasiswi FKIP Uhamka) ingin memberdayakan kaum dhuafa di mulai sekitar kami dengan melakukan penelusuran (Observasi) pada hari Jum’at tanggal 20 November 2020. Setelah kurang lebih dua hari (21 – 22 November 2021) kami mencari informasi melalui tetangga terdekat dan warga sekitar, akhirnya kami menentukan bahwa keluarga Kakek Patoi dan Nenek Sini yang layak kami bantu untuk berdayakan.” Ungkap Farha Lailiah dalam keterangannya, Senen, (25/01/2021).

Menurut Farha, Alasan dia dan temannya memilih Kakek Patoi dan Nenek Sini karena beliau termasuk kategori kaum dhuafa, ia memiliki banyak anak hanya saja anak – anak nya yang sudah memiliki keluarga masing – masing menjadi jarang menjenguk Kakek dan Nenek terutama membantu dalam perekonomian nya, serta memiliki semangat dan motivasi yang besar untuk terus berusaha menjadi lebih baik.
“Setelah menentukan pada tanggal 22 November kami mulai mempersiapkan proposal dan flyer untuk melakukan Fundraising.” Tutur Lailiah
Farha menceritakan bahwa, Kakek Patoi dan Nenek Sini yang biasa di sapa dengan warga sekitar dengan sebutan Engkong dan Nenek ini dipilih karena ketidakmampuan ekonomi nya. Mereka merupakan sepasang suami dan istri yang tinggal di pinggir jalan beralamat Kampung Baru RT 011/RW 002, Kec. Ciracas, Kel. Kelapa Dua Wetan, Jakarta Timur.
Keluarga Kakek Patoi juga Farha menceritakan, adalah termasuk keluarga yang menjadi korban penggusuran tanah untuk dibuat jalan dan kali tanpa adanya ganti rugi sehingga saat ini hanya tersisa 4 x 2 meter sudah termasuk warung yang dijadikan sebagai tempat berlindung selama bertahun – tahun, dengan bangunan yang terbuat dari triplek dan barang seadanya.
Sementara Nenek Sini memiliki warung kecil yang menjual beberapa kebutuhan sehari – hari dengan stok seadanya dan hanya barang – barang yang paling sering dicari juga digunakan oleh masyarakat sekitar dan kebisaan Nenek dalam membuat nasi uduk,
gorengan dan berbagai cemilan kecil juga dijadikan sebagai usaha warung kecilnya, dari warung ini lah yang menjadi penghasilan Nenek Sini dan Kakek untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari.
Tetapi karena usia yang sudah menua membuat kakek dan nenek memiliki keterbatasan dalam melihat dan mendengar, pengelihatan Nenek yang sudah mulai berkurang membuat nenek hanya meraba-raba barang yang dibutuhkan untuk digunakan, dan juga keadaan dapur yang hanya bisa dimasuki untuk nenek seorang semakin membuat keterbatasan nenek untuk bergerak dalam memasak. Pendengaran Kakek pun sudah mulai berkurang sehingga menjadi keterbatasan kakek dalam membantu nenek melayani pembeli. Itulah yang menjadi faktor permasalahan mereka dalam menghadapi perekonomian sehari – hari.
Dari latar belakang Kakek Patoi dan Nenek Sini tersebut Farha dan dua temannya berniat untuk membantu, agar bisa meringankan sedikit bebannya.
“Kami membuka donasi untuk orang – orang yang mau berbagi sedikit hartanya kepada Kakek Patoi dan Nenek Sini. Proses pengumpulan donasi dilakukan selama kurang lebih 1 bulan 13 hari, dimulai sejak 26 November 2020 s.d 08 Januari 2021. Kelompok kami membuat pamflet untuk penggalangan dana dan menyebarkannya di sosial media serta menghubungi kerabat dan teman. Dalam proses pengumpulan dana berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan. Alhamdulillah, kami dapat mengumpulkan dana sebesar Rp. 1.146.000,-.” Ujar Farha
“Dana yang terkumpul kami salurkan ke Kakek Patoi dan Nenek Sini dalam bentuk barang (Kasur, bantal, pakaian, keperluan warung dan peralatan masak juga sedikit kebutuhan sehari – hari). Kegiatan ini di lakukan pada 08 Januari 2021, dengan respon dari Kakek dan nenek yang sangat berterimakasih dengan adanya donasi ini.” Tuturnya lagi
“Melihat Kakek yang tak henti mengucap terimaksih dan Nenek Sini yang berkaca – kaca terharu bahagia sembari memberikan ucapan – ucapan do’a kepada kita semua. Alhamdulillah kami turut bahagia dengan respon kakek dan nenek.” Lanjutnya.
Melalui cerita Kakek dan Nenek Patoi ini, Farha dan dua rekannya semakin menyadari hahwa sebagai warga bangsa terutama sesama umat islam sudah menjadi kewajiban untuk saling membantu meskipun tidak banyak setidaknya bisa meringankan sedikit beban sesama. Karena tidak akan merugi bagi orang – orang yang menyedekahkan sebagian rezekinya kepada yang membutuhkan, hal
“Dengan adanya kegiatan ini membuat kami mendapatkan momentum kesadaran bahwa hidup yang mulia itu tatkala kita yang dapat membantu sesama, membela yang susah, dan bermanfaat untuk manusia lainnya. Semoga sedikit bantuan yang dapat kami kumpulkan dan salurkan kepada Kakek Patoi dan Nenek Sini dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan keduanya, khususnya dalam pengembangan ekonomi, sehingga Kakek dan Nenek Sini menjadi lebih mandiri lagi dan semangat untuk terus berusaha terutama untuk warung kecilnya.” Tutur Farha.
*amr
]]>
Jakarta – Semenjak datangnya pandemik covid-19, masyarakat yang kesulitan semakin bertambah. Hal ini membuat Selina dan dua orang rekannya (Wilanda dan Lifia) mahasiswa pendidikan UHAMKA termotivasi membatu Ibu Suryani.
Ibu suryani adalah seorang janda yang memiliki 2 anak dan dalam memenuhi kebutuhannya masih kekurangan, ditambah lagi Ibu Suryani sendiri memiliki penyakit kantung kemih yang bocor sehingga terbatas dalam aktifitas kesehariannya.
Selina menceritakan bahwa setelah melakukan peninjauan lebih jauh terhadap beberapa keluarga duafa, akhirnya dirinya dan dua rekannya memilih Ibu Suryani sebagai duafa yang paling memerlukan bantuan tersebut pada saat itu.

“Kami mengunjungi rumah Ibu Suryani untuk melihat kondisinya secara keseluruhan. Ibu Suryani hanya mengandalkan penghasilan dari kerja panggilannya sebagai ART, sehingga penghasilannya tidaklah tentu. Sedangkan beliau harus menghidupi kedua anaknya dan memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan keterbatasan penyakitnya.” Tutur Selina dalam keterangannya, Senen, (25/01/2021).
Sebagai tindak lanjut, Selina dan dua rekannya Wilanda dan Lifia , Mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Uhamka ini menyusun strategi dan melakukan penggalangan dana baik secara virtual seperti maupun melalui jaringan yang mereka miliki.
“ Setelah penggalangan dana selama kurang lebih 2 bulan, kami berhasil memperoleh dana sebesar Rp. 1.835.000,00. Kemudian dari dana tersebut kami menyusun rancangan bantuan yang akan disalurkan mulai berupa bantuan sembako, sepeda untuk akses pekerjaan, dan uang tunai. Sehingga pada Sabtu 09 Januari 2021, alhamdulillah bantuan tersebut dapat disalurkan kepada Ibu Suryani dengan lancar”. Tutur Selina.
“Ibu Suryani dan dua anaknya sangat senang, bersyukur dan sangat berterimakasih kepada kami dan Uhamka” tambah Wilanda.
Kegiatan pemberdayaan keluarga duafa ini selain sebagai salah satu bagian dari tugas mata kuliah Kemuhammadiyahan, juga sebagai wujud dari implementasi dari surah Al Maun yaitu membatu orang yang lemah.
“Banyak hikmah yang dapat kita ambil dari kegiatan pemberdayaan keluarga duafa ini, termasuk harus pandai bersyukur terhadap apa-apa yang kita miliki. Jangan selalu melihat ke atas, karena banyak orang lain di bawah kita yang lebih membutuhkan dan lebih kekurangan dari pada kita. Kami juga berterimakasih kepada Bapak Amirullah, M.A, yang sudah membimbing dan mendampingi kami dalam pemberdayaan keluarga duafa ini” ujar Selina dalam keteranganya.
*amr
]]>