Jakarta- Lembaga Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) Uhamka bekerjasama dengan Uhamka Boarding School (UBS) Jonggol memberikan pelatihan karakter kepada santri melalui navigasi kitab zaadul maad. Acara pelatihan ini diselenggarakan secara luring dimana sesi pertama pada tanggal 09 dan 16 Desember 2021 yang diikuti oleh seluruh santri dan para guru UBS Jonggol.
Ketua tim Pengabdian Masyarakat Rizki Amrillah, M.Ed menyatakan kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan pelatihan dan mendidik karakter santri melalui kitab zaadul maad
“seperti yang maklum bahwa kita sebagai Muslim mesti hidup dengan baik dan benar sesuai tuntunan dan pedoman Nabi Muhammad SAW, supaya pertanggung jawaban di akhirat nanti berat dengan timbangan kebaikan dan kitab zaadul maad yang di tulis oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziy ini adalah navigasinya, kitab yang menjelaskan tentang keseharian Rasulullah. Zaadul maad yang bermakna bekal untuk tempat kembali yaitu akhirat, kitab ini mengurai aspek kehidupan Rasulullah secara detail, terutama dalam masalah ibadah dan muamalah bagi seorang mukmin, dan sebagai panduan untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat”. Tutur Rizki Amrillah.
“Tidak akan bergeser kaki seseorang hamba dihadapan Allah sampai ditanya tentang 2 hal, yang pertama apa yang telah kalian sembah, dan yang kedua apakah kalian memenuhi perintah Rasulullah. Maka jawaban yang pertama adalah untuk menegaskan kalimat La Ilaha Illallah. mengetahui maknanya mengulangi atau mempelajari arti kalimat tersebut dan mengamalkannya, yang kedua untuk menegaskan kalimat Muhammad Utusan Allah, mengetahui makna kalimat tersebut tunduk terhadap atas apa-apa yang datang dari Rasulullah, dan ta’at atas apa-apa yang diperintahkan Rasulullah. Karena Rasulullah diutus kepada seluruh umat manusia untuk membimbing kepada jalan yang benar, membawa agama yang benar, manhaj yang lurus. Dan Allah mengutusnya sebagai Rahmat bagi seluruh alam, imam bagi orang-orang yang bertakwa, sebagai hujjah seluruh makhluk, Sebagai petunjuk kepada jalan yang benar.” Jelas Rizki.
Sementra anggota pengabdian masyarakat Bu Dr. Heni Ani Nuraeni juga mengatakan bahwa santri harus memiliki akhlak dan sikap yang baik, supaya terbentuk sikap dan akhlak mahmudah tersebut maka perlu di bekali dan diberikan pelatihan, maka kitab zaadul maad adalah navigasinya yang mengarahkan kehidupan para santri dalam kesehariannya
Kegiatan ini menarik perhatian sehingga menimbulkan tanggapan, “saya sebagai PLT Kepala Sekolah UBS Jonggol senang sekali Dosen-dosen uhamka bisa membersamai para santri, terutama ketika mereka disampaikan tentang bagaimana bersikap, berperilaku sesuai yang sudah di teladankan oleh Rasulullah melalui kitab zaadul maad, ini akan memberikan modal dan bekal kepada para santri agar menjadikan Rasul sebagai idola”. Ujar Azmi sapaannya.
Rizki Amrillah, M.Ed sebagai ketua tim pengabdian masyarakat menyatakan “Semoga apa yang telah kami berikan dapat bermanfaat bagi para santri baik selama di pesantren maupun selama mereka bergaul di masyarakat nantinya. merupakan salah satu bentuk tanggung jawab bagi kita semua untuk membentuk generasi muda agar memiliki karakter yang beriman, bertakwa memiliki disiplin yang tinggi.” Tutupnya
]]>Donec condimentum sit amet tortor quis vestibulum. Suspendisse bibendum venenatis ante id consectetur. Duis non malesuada elit, nec ultricies mi. Phasellus facilisis nunc dui, vitae rutrum urna sodales eget. Donec turpis tellus, aliquet ut dui a, convallis pulvinar enim. Ut sit amet ligula non magna sollicitudin euismod. Proin et ornare erat. Morbi facilisis dapibus nibh. Vivamus varius eleifend elementum. Cras eleifend quam lacus, at fringilla tortor bibendum ut. Curabitur aliquet, justo eget finibus rhoncus, nulla mauris hendrerit erat, at cursus sem est in nisi. In ornare ultricies erat sed lobortis. Aliquam arcu purus, gravida nec nulla eget, ullamcorper ullamcorper enim. Cras bibendum ultricies sem, ac tempus lectus imperdiet eu. Duis ac tristique arcu, blandit pulvinar leo. Aliquam efficitur est sit amet nulla dignissim, vel dignissim sapien mollis.
]]>Wakil Rektor IV Uhamka, Dr. Bunyamin, M.Pd, menyambut baik kegiatan FGD yang dilaksanakan MUI dan Uhamka, menurutnya persoalan pendidikan di Indonesia, utamanya lembaga pendidikan Islam sangatlah kompleks. Untuk itu, perlu terus dikaji secara mendalam peluang dan tantangan, serta terobosan yang harus dilakukan oleh umat Islam dalam memajukan pendidikan di Indonesia.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada MUI Pusat atas kegiatan ini, diharapkan hasil diskusi di FGD ini dapat memberi masukan konseptual untuk pembangunan pendidikan saat ini dan ke depannya, khususnya lembaga pendidikan Islam yang secara jumlah cukup banyak namun perlu ditingkatkan kualitasnya.” Ujar Bunyamin, Selasa, (04/02/2020).
Dalam FGD ini, Ketua Komisi Pendidikan MUI, Sudarnoto Abdul Hakim menjelaskan bahwa problematika pendidikan Indonesia saat ini semakin kompleks. Pendidikan Indonesia menurut Sudarnoto masih berhadapan dengan persoalan eksploitasi, korupsi, Penipuan/kebohongan, buly, kekerasan verbal dan fisik, serta diskrimimasi.
Pendidikan di Indonesia juga menurutnya, mulai terkubur keteladanan dan nilai-nilai luhur terpinggirkan. Kemudian masyarakat skeptis atas ketakberdayaan lembaga pendidikan sebagai tempat yang menyenangkan, menyemai ilmu, memperkokoh kepribadian dan menempa integritas
“Pendidikan mulai tereduksi maknanya sedemikan rupa menjadi persoalan teknikal dan transfer ilmu pengetahuan semata”. Tuturnya.
Sudarnoto menegaskan bahwa, esensi pendidikan ialah melahirkan manusia yang berkarakter atau berkepribadian kokoh, bukan semata manusia yang pandai atau berilmu pengetahuan
“Pendidikan pada hakikatnya membangun manusia seutuhnya. Kepribadian diperkuat, wawasan dikembangkan dan integritas diperkokoh. Untuk itu hakekat pendidikan adalah memanusiakan manusia, upaya terus menerus membuat manusia menjadi berbudaya, berakal budi dan berkeadaban.” Tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Herry Suhardiyanto, menjelaskan pentingnya pendidikan di Indonesia berorientasi pada kompetensi yang bisa menjawab tantangan nasional dan global saat ini. Menurutnya pendidikan harus mengembangkan kompetensi dasar seperti kompetensi Spiritual, yang di dalamnya mengandung nilai-nilai toleransi, menjunjung tinggi HAM, gotong royong, tolong menolong, mufakat, dan berkeadilan.
Selain kompetensi spiritual, mantan Rektor IPB juga ini memaparkan pentingnya kompetensi Kewarganegaraan. Dimana kemampuan berinteraksi secara konstruktif dan produktif baik dengan warga bangsa maupun warga dunia, menghargai perbedaan tanpa menghilangkan identitas dirinya harus menjadi perhatian serius pendidikan di Indonesia.
Untuk menjadi Negara maju, pendidikan di Indonesia menurut Prof. Herry haruslah berorientasi pada literasi Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni.
“Literasi Data dan Literasi STEM-AL (Science, Technology, Engineering, Mathematics, Art, and Language) sangatlah penting sekarang ini dan ke depan”. Tuturnya.
Untuk itu ia mengusulkan agar Indonesia perlu selalu menjadikan Pancasila, Pembukaan UUD 1945 dan UUD 1945, serta UU Sisdiknas sebagai rujukan utama dalam politik pendidikan untuk mewujudkan cita-cita proklamasi. (ar)
Berita ini telah dimuat di suara Muhammadiyah, lihat link http://www.suaramuhammadiyah.id/2020/02/05/jelang-kuii-2020-uhamka-dan-mui-rancang-masa-depan-pendidikan-indonesia/
]]>